Bukit Pasir Jaka Jadi Laboratorium Alam: Cara MAPALA POLSUB Tempa Karakter dan Keterampilan Tanggap Darurat Mahasiswa


Subang – Menjelajah alam bebas bukan sekadar soal menaklukkan ketinggian atau menikmati bentang lanskap yang indah. Di balik setiap langkah pendakian, dibutuhkan perhitungan matang, kesiapan mental, serta keterampilan bertahan hidup yang mumpuni. Kesadaran inilah yang ditanamkan oleh Mahasiswa Pecinta Alam Politeknik Negeri Subang (MAPALA POLSUB) saat menggelar Pendidikan Dasar (Diksar) di kawasan Bukit Pasir Jaka, Desa Cimanggu, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, pada 17–18 Oktober 2026.

Mengusung tema “Mandiri dalam Langkah, Tangguh dalam Kebersamaan”, kegiatan ini diikuti oleh 17 peserta yang sebelumnya dilepas secara resmi di Kampus Ciereng POLSUB. Selama dua hari penuh, kawasan perbukitan tersebut disulap menjadi laboratorium alam untuk menempa fisik, mental, dan kepedulian sosial para calon anggota baru.

Ketua MAPALA POLSUB, Hafizh Ramadhan Marulloh, menegaskan bahwa Diksar ini dirancang bukan sebagai ajang uji fisik semata, melainkan kawah candradimuka untuk membentuk karakter mahasiswa yang sigap, berinisiatif tinggi, dan bertanggung jawab terhadap keselamatan diri maupun tim.

“Melalui Pendidikan Dasar ini, kami membekali anggota baru dengan pengetahuan dan keterampilan dasar kegiatan alam bebas. Sesuai tema yang diusung, kami ingin menanamkan prinsip bahwa setiap anggota harus mandiri dalam mengambil langkah, namun tetap tangguh dalam menjaga kebersamaan, saling membantu, serta peduli terhadap kelestarian lingkungan,” ujar Hafizh.

Dari Simulasi Evakuasi Medis hingga Navigasi Darat

Berbeda dengan pembelajaran di ruang kelas, seluruh materi dalam Diksar ini langsung diuji lewat simulasi lapangan yang menuntut ketenangan dan ketepatan mengambil keputusan. Proses pendidikan bahkan sudah dimulai sejak tahap pra-kegiatan, di mana peserta dilatih merancang manajemen perjalanan dengan menyusun daftar logistik konsumsi secara terukur, serta menjalani pemeriksaan kerapian pengemasan perlengkapan (packing) usai apel.

Saat berada di medan latihan, peserta dihadapkan pada skenario darurat Search and Rescue (SAR) yang dipadukan dengan pertolongan pertama pada kasus keracunan makanan serta penanganan kram otot di jalur pendakian. Dalam simulasi ini, panitia berperan sebagai korban, sementara peserta dituntut sigap melakukan penanganan awal, mengevaluasi kondisi medis korban, merakit tandu darurat dari bahan seadanya, hingga melakukan proses evakuasi.

Selain kesiapsiagaan medis, kemampuan teknis para peserta juga diasah lewat materi navigasi darat untuk membidik arah dan menentukan titik koordinat posisi mereka di alam terbuka, serta praktik Kesehatan dan Manajemen Perjalanan/Survival (KMS).

Memasuki waktu sore hingga malam hari, ujian kemandirian dan kerja sama tim kian terasa. Secara berkelompok, para peserta berlomba mendirikan bivak atau tempat berlindung darurat yang kokoh, dilanjutkan dengan teknik menyalakan api unggun di tengah cuaca perbukitan. Di sela-sela kegiatan, kepekaan ekologis mereka juga dipertajam melalui praktik botani dan zoologi praktis, yakni mengidentifikasi jenis-jenis tanaman obat hutan serta mengenali ragam satwa liar di sekitar area perkemahan.

Kaderisasi dan Estafet Pengaderan Lintas Generasi

Setelah berhasil melewati seluruh tahapan ujian fisik dan simulasi teknis, ke-17 peserta tersebut akhirnya resmi menjadi siswa MAPALA POLSUB. Momen sakral di alam terbuka ini turut dihadiri oleh jajaran alumni MAPALA POLSUB, yang hadir untuk memberikan dukungan moral sekaligus menjaga kesinambungan nilai-nilai organisasi lintas generasi.

Hafizh berharap, kaderisasi ini menjadi titik awal bagi para anggota baru untuk terus mengasah kapasitas diri dan memberikan kontribusi nyata, baik bagi kampus maupun masyarakat luas.

“Harapan kami, nilai-nilai kedisiplinan, solidaritas, dan keterampilan teknis yang mereka serap selama di Bukit Pasir Jaka tidak berhenti saat Diksar selesai, tetapi terus diterapkan dalam setiap pergerakan organisasi maupun di kehidupan sehari-hari,” pungkas Hafizh. Melalui pengaderan yang terukur dan berorientasi pada keselamatan serta konservasi, MAPALA POLSUB kembali membuktikan bahwa organisasi kemahasiswaan mampu menjadi wadah strategis untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga tangguh menghadapi situasi krisis dan memiliki empati tinggi terhadap kelestarian alam.

  • Reporter: : Amaliah Sa’adah
  • Fotografer: : Amaliah Sa’adah
  • Redaktur: Nurizzi Rifqi Ferdian