Mahasiswa JTIK POLSUB Rajut Solidaritas Lewat Kompetisi Futsal ARTHLE-TIK 2026


Subang – Rutinitas perkuliahan mahasiswa Jurusan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) kerap diidentikkan dengan deretan baris kode pemrograman dan berjam-jam menatap layar monitor. Namun, pemandangan berbeda tersaji di GOR Carera pada Minggu (18/10/2026). Menanggalkan sejenak kesibukan akademik, ratusan mahasiswa tampak membaur dalam gelaran kompetisi futsal internal bertajuk Art and Athlete of JTIK (ARTHLE-TIK) 2026 yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Teknologi Informasi dan Komputer (HIMATIKOM) Politeknik Negeri Subang (POLSUB).

Mengusung tema “One Spirit, One Competition, One Family”, ajang olahraga ini bukan sekadar panggung adu ketangkasan mengolah si kulit bundar. Lebih dari itu, ARTHLE-TIK 2026 menjadi ruang pencair suasana untuk meruntuhkan sekat-sekat antarkelas sekaligus menyemai benih kekeluargaan di lingkungan kampus.

Ketua HIMATIKOM POLSUB, Wibi Kholik, mengungkapkan bahwa kegiatan ini sengaja dirancang untuk memfasilitasi mahasiswa agar bisa saling mengenal dan berinteraksi di luar atmosfer ruang kelas yang kaku.

“Melalui pertandingan ini, kami ingin mahasiswa punya kesempatan untuk membangun komunikasi dan belajar bekerja sama dalam suasana yang berbeda dari perkuliahan sehari-hari. Nilai yang kami bawa bukan sekadar soal olahraga atau menyalurkan bakat, melainkan upaya membangun lingkungan mahasiswa yang lebih dekat, solid, dan saling mendukung,” jelas mahasiswa Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) tersebut.

Senada dengan Wibi, salah satu panitia pelaksana, Puji Novianti, menyoroti bahwa meski berada di jurusan dan lingkungan kampus yang sama, belum tentu setiap mahasiswa saling mengenal dengan baik. Menurutnya, kompetisi ini menjadi jembatan yang efektif untuk mempertemukan mereka, memfasilitasi minat di bidang olahraga, sekaligus menumbuhkan rasa memiliki sebagai satu keluarga besar Jurusan TIK.

Sorak Suporter dan Pelajaran tentang Empati di Lapangan

Kemeriahan ARTHLE-TIK 2026 tidak hanya tersaji dari aksi saling serang para pemain di tengah lapangan. Di pinggir arena, gemuruh sorak-sorai teman sekelas yang hadir sebagai suporter menjadi energi tambahan yang menghidupkan suasana. Kehadiran mereka membuktikan bahwa perjuangan membawa nama kelas adalah tanggung jawab dan kebanggaan bersama.

Menariknya, potret solidaritas paling menyentuh justru terlihat saat tim menghadapi situasi sulit di lapangan. Dalam tensi pertandingan yang tinggi, kegagalan memanfaatkan peluang atau kesalahan umpan adalah hal yang lumrah terjadi. Namun, alih-alih saling menyalahkan, para pemain dan suporter justru menunjukkan kedewasaan emosional dengan saling menguatkan.

Hal ini dirasakan langsung oleh salah satu peserta dari kelas TRPL 2B, Muhammad Naufal Albari. Bagi mahasiswa yang akrab disapa Nopal ini, esensi kerja sama tim yang sesungguhnya tidak hanya diukur saat berhasil mencetak gol, tetapi ketika setiap anggota mampu menerima kekurangan rekannya dan bangkit bersama.

“Kegagalan itu bagian dari permainan, tapi di sini kami belajar untuk tidak saling menyalahkan. Saat ada teman setim yang melakukan kesalahan, dukungan dari rekan lainnya sangat membantu menjaga mental dan kekompakan kami,” tutur Nopal.

Ia pun mengaku sangat antusias dengan penyelenggaraan acara ini. “ARTHLE-TIK ini seru sekali karena kami bisa mengembangkan kemampuan olahraga, menambah pengalaman, dan yang paling penting mempererat kekompakan. Semoga tahun depan acaranya bisa lebih meriah dan melibatkan lebih banyak peserta,” tambahnya.

Kemenangan sebagai Apresiasi, Kekeluargaan sebagai Warisan

Setelah melewati rangkaian laga yang sengit dan menjunjung tinggi sportivitas, tim “Burung Berkicau” yang mewakili kelas Sistem Informasi (SI) 2B akhirnya berhasil keluar sebagai juara.

Kendati demikian, bagi seluruh keluarga besar HIMATIKOM, trofi juara hanyalah bentuk apresiasi atas usaha di lapangan. Keberhasilan sejati dari ARTHLE-TIK 2026 terletak pada proses pembelajaran karakter yang didapat oleh seluruh mahasiswa—mulai dari cara mengelola tekanan di bawah sorotan publik, berlapang dada menerima hasil akhir, hingga menghargai perjuangan lawan. Ketika peluit panjang tanda berakhirnya turnamen ditiupkan, persaingan antarkelas pun resmi usai. Yang tersisa dan dibawa pulang oleh para mahasiswa TIK POLSUB kembali ke ruang-ruang kuliah mereka adalah sapaan hangat dari teman baru, keakraban yang kian erat, serta ikatan kekeluargaan yang jauh lebih tangguh.

  • Reporter: Shinta Dian Putri
  • Fotografer: Shinta Dian Putri
  • Redaktur: Nurizzi Rifqi Ferdian